Perguruan tinggi di Indonesia semakin fasih berbicara tentang keunggulan, daya saing global, dan produktivitas akademik. Istilah-istilah itu hadir rapi dalam pidato resmi, laporan tahunan, dan strategi institusional. Di balik bahasa yang tampak optimistis tersebut, terdapat pengalaman keseharian dosen muda yang jarang mendapat ruang artikulasi. Mereka bekerja dalam ritme yang padat, memikul beban berlapis, dan hidup dalam tekanan psikologis yang kerap dinormalisasi sebagai bagian dari etos akademik.
Kesehatan mental dosen muda jarang dibicarakan sebagai isu struktural. Ia lebih sering dibingkai sebagai persoalan personal yang harus diselesaikan melalui manajemen waktu, sikap positif, dan ketahanan diri. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa kelelahan mental muncul dari sistem kerja yang dirancang untuk terus menuntut, mengukur, dan membandingkan, tanpa memberi ruang yang memadai bagi pemulihan dan refleksi.
Kerja dosen muda berlangsung dalam tumpukan tugas yang saling bertaut. Mengajar tidak berhenti di ruang kelas. Ia berlanjut dalam persiapan materi, evaluasi berlapis, pengisian sistem daring, serta rapat yang memanjang tanpa batas waktu yang jelas. Bimbingan mahasiswa sering kali menyerap energi emosional yang besar, terutama ketika mahasiswa membawa persoalan akademik, ekonomi, dan psikologis yang kompleks. Pada saat yang sama, dosen muda dituntut aktif meneliti, menulis, dan mengabdi, sambil memastikan seluruh aktivitas tersebut terdokumentasi secara administratif. Tridharma yang semula dipahami sebagai laku intelektual dan sosial berubah menjadi rangkaian kewajiban yang harus dipenuhi dan dibuktikan.
Administratisasi kerja akademik menciptakan ilusi keteraturan. Setiap aktivitas tercatat, setiap luaran dihitung, setiap jam seolah memiliki padanan angka. Di lapangan, kerja berpikir yang membutuhkan waktu panjang dan kesunyian sering tergerus oleh kewajiban melapor. Membaca dengan tekun, menulis dengan ragu, dan mematangkan gagasan menjadi aktivitas yang sulit dipertahankan dalam kalender yang terus padat. Kelelahan mental tumbuh bukan karena kurangnya dedikasi, melainkan karena minimnya ruang bernapas dalam sistem kerja.
Tekanan tersebut diperkuat oleh cara riset diposisikan dalam ekosistem akademik. Publikasi bergerak sebagai mata uang reputasi. Indeksasi, sitasi, dan skor kinerja menjadi tolok ukur utama mutu akademik. Dosen muda berada pada fase karier yang menuntut pembuktian cepat. Mereka belajar sejak awal untuk membaca peta peluang, menyesuaikan topik, dan memilih jalur aman agar produktivitas dapat segera terlihat. Dalam situasi ini, riset mudah kehilangan keberanian untuk bertanya secara kritis dan kontekstual. Pertanyaan yang berisiko, politis, atau membutuhkan waktu panjang sering dianggap mahal secara karier.
Logika skor membentuk moralitas baru di kampus. Produktif dipahami sebagai mampu menghasilkan luaran dalam jumlah tertentu dalam waktu singkat. Mutu dipersempit menjadi kesesuaian dengan indikator. Kecemasan pun menjadi bagian dari keseharian. Setiap semester membawa perhitungan baru, setiap tahun menghadirkan pembanding baru, dan rasa cukup terus menjauh. Kelelahan mental dosen muda tidak dapat dilepaskan dari iklim kompetisi yang dipelihara secara sistemik.
Di atas semua itu, kultur senioritas bekerja sebagai lapisan tekanan yang halus namun efektif. Senioritas sering dibungkus sebagai penghormatan terhadap pengalaman dan jasa. Dalam praktik keseharian, ia mengatur siapa yang berbicara, siapa yang menunggu, dan siapa yang memikul beban kerja paling berat. Dosen muda kerap menjadi pelaksana teknis, pengampu kelas dengan jam padat, dan pengisi celah administratif. Akses terhadap riset, jejaring, dan promosi jabatan sering bergerak melalui jalur informal yang sulit dipetakan secara transparan.
Promosi jabatan akademik dipresentasikan sebagai proses objektif berbasis angka dan dokumen. Di balik itu, terdapat proses simbolik berupa legitimasi, rekomendasi, dan pengakuan yang tidak selalu setara. Ketidakpastian ini menciptakan kecemasan berkelanjutan. Dosen muda dituntut matang lebih cepat, patuh pada tatanan yang tidak selalu terbuka, dan tetap produktif dalam kondisi yang tidak sepenuhnya aman secara struktural.
Ketika isu kesehatan mental dosen mulai muncul di ruang publik, respons institusional sering berhenti pada pendekatan individual. Seminar motivasi, kampanye kesadaran, dan anjuran menjaga keseimbangan hidup menjadi solusi yang ditawarkan. Bahasa resiliensi diulang, seolah-olah persoalan terletak pada kemampuan individu untuk bertahan. Pendekatan ini memindahkan tanggung jawab dari sistem ke personal, serta mengaburkan relasi antara desain kerja dan kelelahan mental yang dihasilkan.
Kelelahan dosen muda perlu dibaca sebagai gejala kultural dan struktural. Ia lahir dari tata kelola yang mengagungkan produktivitas tanpa henti, dari fetisisme angka yang menyederhanakan mutu, serta dari hierarki yang jarang direfleksikan secara kritis. Kampus yang terus menuntut generasi mudanya untuk bertahan sedang memproduksi akademia yang rapuh, dingin, dan kehilangan daya reflektifnya.
Membicarakan kesehatan mental dosen muda berarti mempertanyakan ulang etika kerja akademik. Ia menuntut keberanian institusi untuk mengakui bahwa tidak semua kerja bernilai dapat diukur dengan angka, bahwa tidak semua mutu lahir dari percepatan, dan bahwa regenerasi akademik membutuhkan ruang aman untuk belajar, ragu, dan tumbuh. Tanpa pembenahan struktural, wacana kesejahteraan akan selalu tertinggal di belakang kenyataan.
Dosen muda membawa masa depan pengetahuan di Indonesia. Ketika tubuh dan mental mereka terus dipaksa bekerja dalam kondisi lelah yang dinormalisasi, yang dipertaruhkan bukan sekadar kesejahteraan individu, melainkan keberlanjutan etos intelektual itu sendiri. Akademia yang enggan mengakui kelelahan sedang menyiapkan masa depan yang kehilangan daya kritisnya.